Oleh: Moh. Fairuz Ad-Dailami

Indonesia , negara yang hampir mendekati representasi gambaran surga, dengan keindahan alam yang mempesona, dimana banyak taman-taman seiring di dalamnya terdapat bermacam buah-buahan serta mengalir sungai-sungai jernih di bawahnya (QS: Muhammad, 15). Jelas , Indonesia dilihat dari sisi manapun dan segi apapun, ia menampakkan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan potensial di setiap jengkal tanah suburnya.

Rasanya tidak berlebihan secara historis, alasan inilah mengapa bangsa-bangsa Eropa pada abad XVI berdatangan ke negeri ini dan ingin menguasainya. Terperangah akan keelokan Bumi Nusantara yang mempunyai keragaman jenis tumbuhan dan spesies hewan. Tidak heran jika wilayah kepulauan yang terletak di antara dua benua ini mempunyai perangai bak batu kristal (zamrud) khatulistiwa.

Namun di sisi lain, gambaran ironis justru mewarnai lembar sejarah bangsa dan wajah Indonesia . Permasalahan sosial seperti kemiskinan, kelaparan, dan tingkat pengangguran yang tinggi mewarnai hari-hari menjadi realitas kondisi nyata. Betapa sengsaranya bangsa ini, yang meskipun mereka konon hidup di atas bumi dan tanah air yang hampir sama dengan imajinasi surga.

Anomali Perekonomian Nasional dan Kemiskinan
Kadang terbesit suatu pertanyaan, apakah kondisi semperawut yang ada di negeri ini memang suatu takdir? Rasanya tidak, rusaknya sendi-sendi perekonomian nasional yang menyebabkan semakin meningkatnya angka kemiskinan dan jumlah pengangguran di masyarakat adalah sebuah kesalahan pemerintah yang pernah memimpin negeri ini.

Kesalahan itu adalah pemerintah tidak menjadikan sosok rakyat sebagai pelaku ekonomi yang berdaulat. Hal ini dapat dilihat pada masa Orde Baru yang lebih menekankan pada model pembangunan secara makro serta kebijakan industri subtitusi impor dengan bentuk subsidi yang besar. Sementara perekonomian rakyat yang berbasis usaha mikro, koperasi, kecil dan menengah hanyalah menjadi pelengkap derita pembangunan nasional semata.

Dilihat dari sejarahnya, Indonesia yang lahir sebagai negara dunia ketiga, seharusnya ia mampu menciptakan struktur (tatanan) perekonomian yang paling baik dengan belajar banyak berbagai macam teori dan model ekonomi – mulai dari klasik, keynesian, moneterisme maupun ekspektasi yang rasional (ratex) – yang ada. Ini adalah suatu keuntungan oportunis negara-negara berkembang.
Yang menjadi masalah saat ini, mengapa justru tatanan perekonomian nasional Indonesia begitu anomali (pelik dan rumit) ibarat benang kusut yang sulit dicari ujungnya dan jauh dari kata kemakmuran.

Negeri ini sudah luar biasa belajar banyak mengenai demokrasi, seharusnya sistem ini mampu berjalan harmonis untuk menciptakan tatanan kehidupan perekonomian masyarakat yang baik. Lalu apa yang salah dengan negeri ini?

Indonesia tak ubahnya seperti negara yang paling kaya segala-galanya –tidak hanya dalam hal sumber daya alam dan manusia, namun juga kaya akan keberagaman suku, ras, bahasa, dan budaya –, tetapi miskin ilmu pengetahuan manusianya. Tidak heran jika kemudian kekayaan yang melimpah-ruah ini seolah hanya sebatas potensi dan wacana, tanpa mampu diterjemahkan dalam gagasan dan aksi nyata.

Data menunjukkan bahwa hutang Indonesia mencapai Rp.1400 Trilyun, dengan menggunakan perhitungan ekonomi yang sederhana dibagi jumlah penduduk yang ada, ternyata rata-rata setiap orang Indonesia menanggung beban hutang Rp. 6,78 juta (Baca: Perekonomian Indonesia dari Bangkrut Menuju Makmur). Sungguh memilukan!

Kemiskinan bukanlah masalah sosial semata, di samping bangsa ini semakin hari menurun derajatnya menjadi masyarakat pra-sejahtera, mereka juga dihadapkan pada masalah tingkat kesenjangan yang lebar. Ini berbahaya, karena Karl Marx pernah mengatakan bahwa Intergrasi dapat terwujud ketika antara kaum borjuis dan proletar tidak terlalu banyak perbedaan. Jelas, apabila kemiskinan tidak segera ditangani dan diselesaikan dengan serius, maka hal ini dapat menyebabkan disintegrasi bangsa.
Membangun Ekonomi Kerakyatan dan Kemandirian Bangsa

Siapapun pemimpinnya – tanpa harus adanya dikotomi dari kalangan sipil atau militer maupun golongan tua atau muda – , yang pasti Ia harus mampu membawa Indonesia ke depan nantinya untuk menuju lebih baik dan lebih peka terhadap nasib rakyat kecil.

Artinya , Ia harus mampu membangun kerangka perekonomian nasional sedemikian rupa dengan lebih memberdayakan rakyat sebagai pelaku ekonomi yang berdaulat. Hal ini adalah jalan efektif unuk mengurangi angka kemiskinan dan memperbaiki kehidupan masyarakat menuju sejahtera.

Ekonomi Kerakyatan itu adalah suatu bentuk pembangunan perekonomian nasional yang dilandasi pembangunan ekonomi skala mikro (koperasi, usaha kecil dan menengah, perdagangan, dan pertanian) yang kuat dan stabil terlebih dahulu sebelum melangkah ketingkat pembangunan ekonomi menengah dan makro, sementara Indonesia dalam implementasinya selama ini justru malah sebaliknya.

Fakta berbicara, struktur perekonomian usaha kecil dan menengah inilah yang justru ampuh dan mempunyai daya tahan kuat terhadap badai krisis tahun 97/98 maupun pergolakan politik. Sektor ini berhasil menciptakan kesempatan kerja yang mampu menanggulangi tingkat pengangguran dan angka kemiskinan untuk tidak menjadi semakin parah.

Bagaimanapun juga untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan, bangsa ini harus tetap optimis. Bangsa ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang tidak mudah putus asa oleh tragisnya keadaan maupun pasrah dalam kesengsaraan.

Jelasnya, kesejahteraan rakyat bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah. Terlalu berat jika beban ini harus dipikul oleh satu pihak saja, akan jauh lebih efektif ketika semua elemen bangsa ini mau bergerak untuk bersama-sama bangkit membangun negeri dengan kesadaran yang dewasa dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai bangsa yang cerdas, tunjukkan bahwa negeri ini penuh dengan orang-orang yang mandiri dan punya etos kerja yang tinggi. Banyak sebanarnya yang mampu kita lakukan dan kerjakan, bahkan keterbatsan bukanlah suatu alasan. Jangan kita biarkan bangsa ini mengeksploitasi rasa iba, dengan menampakkan wajah mental peminta-minta. Sadarlah! Bangsa ini sangat kaya!

Sebenarnya prinsip ini cukup sederhana, berawal dari pribadi kita masing-masing untuk mempunyai kemauan bagaimana menciptakan apa itu kehidupan sejahtera dengan menggunakan tingkat kepandaian, kemampuan, dan keahlian yang kita miliki.

Kita jangan terlalu mengeluh dan larut dalam stereotipe “cacat” yang melekat dalam diri, apalagi menyalahkan “kebijakan” Tuhan, karena ini bukan masalah takdir. Suatu kaum tidak akan pernah berubah jika bukan dirinya sendiri yang melakukannya (QS: Ar Ra’d, 11), maka dimana kemandirian diri maupun masyarakat tercipta, di situlah cermin kemandirian bangsa.

*Esai ini sebelumnya telah menjadi 50 Esai Terbaik dalam ajang Sayembara Menulis Tingkat Nasional dengan Tema “BERPERANG MELAWAN KEMISKINAN” 2008.

Oleh: Moh. Fairuz Ad-Dailami*

Ada wacana di era sekarang yang mengatakan bahwa kepemimpinan pemuda seolah menampakkan gambaran hampa. Hal ini karena adanya kajian yang mengkomparasikan mengenai seberapa besar kontribusi kepemimpinan pemuda antara sejarah tempo dulu dengan kondisi kekinian yang dianggap serba tanda tanya.

Tidak heran kemudian ada asumsi bahwa kepemimpinan pemuda di zaman perjuangan lebih berhasil dalam membangun negeri dengan kecerdasan konsepsi-konsepsi cemerlangnya daripada generasi muda saat ini yang semakin jauh dari nilai-nilai kepemimpinan pemuda. Lalu, kemanakah wahai kaum pemuda saat ini? Kepemimpinan pemuda saat ini jelas terlihat semakin bias, karena ketidaksadaran generasi muda akan peran yang di sandangnya sebagai elemen kuat pembangun negeri yang berkualitas.

Belajar Dari Sejarah.
Belajar dari sejarah tentang peran dan kontribusi kaum pemuda agaknya tepat bila dimulai pada tahun 1908 oleh Dr. Soetomo yang mendirikan organisasi Budi Utomo sebagai pelopor pergerakan dengan misi besarnya, Indonesia lepas dari cengkraman kolonialisme. Dalam rentang waktu mulai tahun 1908 sampai 1945 atau sampai Indonesia mencapai kemerdekaan adalah masa dimana kaum pemuda berperan aktif bersama-sama menyatukan perjuangan untuk menggapai mimpi besar, baik menggunakan kecerdasan intelektual maupun perjuangan fisik yang mereka mampu lakukan.

Waktu yang pendek ini , kurang lebih hampir 37 tahun –antara mulai tahun 1908 sampai 1945 –dari tangan-tangan pemuda saat itu, lahirlah hal-hal besar dan luar biasa pada zamannya, seperti gerakan-gerakan kebangsaan, gerakan politik menentang penjajahan, gerakan-gerakan menegakkan paham nasionalisme, kesepakatan untuk persatuan dan kesatuan, penamaan bangsa (Indonesia), perumusan Pancasila dan akhirnya kemerdekaan dalam menentukan nasib atas diri sendiri.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah selama 63 tahun pasca kemerdekaan, apa yang telah dikontribusikan oleh generasi muda selanjutnya sampai saat ini untuk negeri ini? Jawaban dari pertanyaan ini agaknya tidak akan sehebat apa yang telah dikontribusikan oleh kaum muda sebelum kemerdekaan, meskipun kenyataannya dengan rentang waktu sependek itu.

Dari Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto inilah lahir pemuda-pemuda yang mengenalkan rasa nasionalisme kepada bangsa, untuk kemudian dijadikan alat pemersatu semangat mewujudkan cita-cita mulia, kemerdekaan. Sebut saja mereka Soekarno, Abikusno, Semaun, Alimin, Muso, H. Agus Salim, Kartosuwijo, Hernan Kartowisastro, dan K.H Mas Mansyur.

Masing-masing pemuda ini di eranya berguru pada orang yang sama, namun kenyataannya ideologi dan organisasi yang mereka dirikan mempunyai warna yang berbeda. Soekarno menjadi tokoh PNI (Partai Nasional Indonesia); Semaun, Alimin, dan Muso menjadi tokoh Komunis PKI (Partai Komunis Indonesia); K.H Mas Mansyur aktif di Muhamadiyah, Kartosuwirjo menjadi tokoh pimpinan PSII, memimpin DI/TII, anggota Pengurus Besar Masyumi dan penggagas NII (Negara Islam Indonesia).

Kemudian kaum pemuda yang berperan besar dalam pergerakan perjuangan yang lainnya adalah Soetomo, Hatta, Sjahrir, dan Natsir. Soetomo mendirikan Budi Utomo dengan corak nasionalisme-modern, Hatta dan Sjahrir melanjutkan perjuangan PNI setelah Soekarno masuk tahanan pemerintahan kolonial, dan sementara itu Natsir bersama tokoh pergerakan nasional yang berbasis Islam lainnya bersatu untuk mendorong munculnya organisasi-organisasi Islam yang bertujuan mensejahterakan umat, seperti Sarekat Islam (SI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyah dan bersama-sama mendirikan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Apa yang dapat kita ambil hikmah dan pelajaran dari uraian di atas adalah, pertama adanya perbedaan diantara mereka dalam masalah ideologi maupun pergerakan yang mereka usung meskipun lahir dari ”rahim” yang sama. Walaupun dalam perjalanan waktu terjadi konflik diantara mereka karena perbedaan yang tentunya memaksa untuk terjadinya hal tersebut, namun ini tidak lebih dari masalah yang kecil, jauh lebih besar dari apa yang telah mereka tampilkan dan persembahkan, yaitu perjuangan, rasa cinta tanah air yang besar, toleransi, dan sikap saling menghormati dalam perbedaan.

Kedua, dengan adanya perbedaan diantara mereka yang meskipun sama-sama berbekal kedalaman intelektual dan kecerdasan, namun sejarah membuktikan masing-masing dari mereka tidak terjebak dalam satu warna ideologi saja.

Perbedaan apa yang tampak dari masing-masing pesonal diri mereka tidak lebih dari sesuatu yang terlihat di luar dan memang sifatnya eksperimentatif terhadap berbagai ideologi yang berkembang saat itu, namun secara esensi mereka semua berada pada misi yang sama, yaitu keinginan untuk mewujudkan Indonesia merdeka dan lepas dari segala penjajahan maupun kolonialisme. Ketidaksamaan hanya terletak pada tataran cara dan alat dari keyakinan mereka masing-masing yang dianggap benar untuk bagaimana menciptakan kemaslahatan negeri ini.

Ketiga,justru lahir dari perbedaan inilah yang kemudian muncul sintesa cemerlang dari masing-masing konsepsi yang mereka tawarkan untuk kemudian menjadi alat pemersatu bangsa dan membawa kepada keutuhan negara. Landasan prinsip-prinsip itu adalah setuju dalam perbedaan (agree in disagreement) atau Bhinneka Tunggal Ika, Sumpah Pemuda, dan Pancasila. Landasan-landasan ini secara harmonis dan akomodatif mampu menyatukan kepentingan semua golongan. Apa yang telah dipersembahkan oleh para founding’s father kita sungguh luar biasa dan penuh guna sewaktu usia mudanya.

”Sadar Peran”, Solusi Bias Kepemimpinan Pemuda.
Pasca kemerdekaan, ada anggapan bahwa kaum pemuda seolah mengalami disorientasi tujuan atas apa yang seharusnya mereka perbuat dan lakukan untuk tanah airnya kemudian. Ini dikarenakan tidak adanya ikatan emosional diantara kaum pemuda yang tidak sekuat ketika sebelum tecapainya kemerdekaan, yaitu dengan adanya kesamaan misi bersama yang besar, lepas dari penindasan dan penjajahan. Tidak heran kemudian jika generasi muda sekarang ini , yang secara kuantitas sangat banyak kenyataannya tidak mempunyai fungsi dalam struktur sosial-masyarakat, bahkan banyak yang menjadi pengangguran karena tidak dibarengi dengan kualitas.

Konsep kepemimpinan bagi generasi muda saat ini bukanlah harus selalu dipahami seperti bagaimana kita menjadi ketua kelompok massa, memimpin pergerakan, maupun mendirikan organisasi-organisasi layaknya sama ketika apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita sebelum kemerdekaan terjadi.
Kepemimpinan untuk saat ini harus dipahami secara lebih luas dan sesuai dengan konteks keadaan yang ada.

Artinya sebelum generasi muda kita ini diberi otoritas untuk memimpin sekelompok massa, pergerakan maupun organisasi-organisasi, atau bahkan bangsa dan negara; mereka harus menanamkan nilai-nilai dan sifat-sifat kepemimpinan untuk dirinya sendiri, seperti pengendalian diri, semangat, berfikir maju, produktif, sense of belonging kepada tanah air dan punya rasa tanggung jawab terhadap kontribusi apa yang harus ia dapat persembahkan untuk negerinya layaknya idiom ” jangan berfikir apa yang seharusnya negara berikan kepada kita, tapi bagaimana dan apa yang telah kita berikan untuk negeri selama ini” .

Dengan prinsip-prinsip kepemimpinan di atas inilah yang dapat melahirkan konsep dan mengenal apa itu ”Sadar Peran” oleh generasi muda kita. Sadar peran di sini harus dipahami sebagai suatu keadaan mental dan kejiwaan yang muncul dari sanubari setiap pemuda dengan bentuk kesadaran penuh atas posisi peran serta tanggung jawab yang diembannya. Orang-orang yang di zaman ini merasa dirinya berada dalam golongan kaum muda harus mulai menyadari akan peran sebagai elemen bangsa yang sangat penting bagi agen of cnange dan penentu masa depan bangsa dan negara.

Prinsip Sadar Peran di sini rasanya tidak harus muncul dari hasil pengkaderan, pembinaan, dan penggemblengan yang sangat intensif ibarat anak kecil yang tidak akan mau makan apabila tidak disuapi. Namun layaknya sejarah telah membuktikan bahwa seperti Dr. Wahidin dan Dr. Soetomo kenyataannya tidak lahir dari didikan generasi tua, mereka justru lahir dan besar dari proses dialektika dengan para pendahulunya ditambah dengan rasa prihatin terhadap nasib bangsa serta kondisi negeri yang ada. Dari sinilah benih Sadar Peran kemudian muncul untuk bagaimana berbuat sesuatu demi menciptakan tatanan kondisi tanah air yang bermartabat dan berdaulat penuh.

Di saat dewasa ini di Barat jumlah generasi tuanya yang sudah tidak produktif semakin meningkat –mereka adalah para pegawai negeri pensiunan yang terus ingin hidup namun membebani anggaran keuangan negara –, sementara generasi mudanya sangat sedikit. Maka, justru di negara berkembang seperti Indonesia menunjukkan hal yang sebaliknya, dimana generasi muda melimpah keberadaannya. Namun generasi muda di Indonesia yang jumlahnya jutaan itu bagaikan orang kepalang-tanggung, di pihak lain menjadi tumpuan harapan tapi di lain pihak tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi kuasa.

Dengan sederhana, kepemimpinan pemuda saat ini harus dilandasi dengan prinsip Sadar Peran untuk mengisi kemerdekaan. Apapun yang kita miliki –baik itu pengetahuan, intelektual, etos kerja yang tinggi, maupun pengalaman praktis dalam berbisnis –, mari bersama-sama kita sumbangkan untuk kejayaan negeri ini. Kita harus sadar akan peran bagaimana membangun negeri tercinta ini dengan kemampuan dan kebisaan melalui apa yang kita punyai dengan sepenuh hati. Kita harus Sadar Peran juga bahwa generasi muda bagi negara-negara berkembang adalah suatu kekuatan yang mampu mengawal keutuhan NKRI dalam mengahapi arus hegemoni globalisasi.

Inilah sumbangan terbesar pasca kemerdekaan yang tentunya tidak akan kalah prestise-nya oleh apa yang telah dilakukan para pendiri bangsa kita melalui pergerakan maupun perjuangan fisik yang sangat melelahkan. Jelasnya, jangan sampai kita sebagai generasi muda yang hidup di zaman ini dianggap mendurhakai nilai-nilai perjuangan dan kepemimpinan pemuda yang telah lahir sejak 80 tahun lalu, karena sumpah persatuan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa ini telah dibangun di atas perjuangan dan cinta jutaan jiwa manusia Indonesia.

Oleh: Moh. Fairuz Ad-Dailami*

”Sumpah Mahasiswa Indonesia, Kami Putra Putri Indonesia Bersumpah, Untuk Terus Berjuang dan Berkarya dengan Segala Daya, Demi Terciptanya Indonesia Berdaulat dan Sejahtera, Sebagai Bakti Kami Kepada Negeri” (BEM Seluruh Indonesia, Yogyakarta 28 Oktober 2008)

Inilah hasil Konferensi Mahasiswa Indonesia (KMI) yang diselenggarakan di Yogyakarta mulai tanggal 23-28 Oktober 2008. Dari sumpah di atas, secara jelas menuntut kaum muda untuk menyadari peran serta dengan konkrit pada zaman ini.

Mungkin di sini kita harus bedakan antara bentuk perjuangan masa lalu dengan masa kini. Sebagaimana yang dilakukan oleh Soepomo, Soekarno, Hatta, Shjahrir, Natsir, dan lain-lain yang inti perjuangan mereka adalah keinginan untuk mewujudkan Indonesia merdeka, lepas dari segala bentuk penjajahan dan kolonialisme. Lalu, bentuk perjuangan seperti apa yang seharusnya kaum muda lakukan sekarang?

Era perang dan kolonialisme yang melibatkan perjuangan fisik sudah usai, dan Indonesia telah sepenuhnya lepas dari penjajahan sejak 63 tahun yang lalu. Jadi, perjuangan generasi muda sekarang adalah mengisi kemerdekaan itu sendiri. Banyak yang seharusnya kita lakukan, sebagaimana seperti yang diamanatkan oleh UUD 45 dalam Pembukaan bahwa kita sebagai warga negara dituntut untuk bersama-sama ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Apalagi kita yang mempunyai predikat mahasiswa, kelompok elite yang hanya 10 % dari 140 juta di antara anak-anak muda lainnya yang dapat meneruskan tingkat pendidikan pada jenjang sedemikian rupa di muka bumi negeri ini. Selain secara aktif melakukan kritik dan pengontrolan terhadap kebijakan maupun prilaku politik penguasa melalui demonstrasi, unjuk rasa, dan provokasi massa, ada tugas yang lebih nyata bagi kita untuk memperjelas peran serta bersama-sama membangun negeri ini.

Kita yang dibekali ilmu pengetahuan dan dapat belajar sampai tingkat perguruan, harus lebih peka untuk bagaimana ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendek kata, sharing (berbagi) ilmu pengetahuan, caranya bermacam-macam. Mulai dari penyuluhan, mengajar anak-anak jalanan, mengadakan seminar, menyumbangkan buku-buku pelajaran yang tidak terpakai maupun dengan modal intelektual untuk berkarya.

Bentuk peran serta ini tidak sepenuhnya terbatas pada contoh di atas, apapun bentuk kegiatannya yang penting dapat melibatkan masyarakat luas, khususnya untuk generasi muda lainnya yang tidak seberuntung kita dengan kesadaran bersama-sama. Menggunakan segala daya demi terciptanya Indonesia yang berdaulat dan sejahtera.

Dengan ini, Sumpah Pemuda 80 tahun yang lalu dan Sumpah Mahasiswa Indonesia sekarang akan menjadi relevan adanya. Kenali peran serta kita, lakukan apa yang mampu kita lakukan dan persembahkan untuk negeri sebagai bentuk bakti serta sumbang sih kepada bangsa sekaligus menghilangkan wacana bias kepemimpinan pemuda saat ini. Ingat, Benedict Anderson seorang Indonesianist mengatakan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya.

*Tulisan ini sebelumnya telah dimuat oleh Harian Nasional Seputar Indonesia, Sabtu 1 November 2008

Mandiri*

30 Mei 2010

Oleh: Moh Fairuz Ad-Dailami

Indonesia, Negara yang hampir mendekati representasi gambaran surga, oleh keindahan alam sangat mempesona dengan banyaknya taman-taman disertai bermacam buah-buahan dan mengalir sungai-sungai jernih di bawahnya. (QS. Muhammad: 15)

Seharusnya dengan modal kekayaan alam yang melimpah dan potensial itu, bangsa ini secara cerdas mampu mengoptimalkan dan mengolahnya untuk menjadikan negeri yang sejahtera. Bukan menganggapnya sebatas wacana dan gagasan semata tanpa adanya aksi nyata.

Tampaknya hal tersebut yang kemudian menjadikan bangsa ini berfikir manja, bahwa ia dapat hidup makmur dan sejahtera bukanlah tercipta atas dasar kerja keras dari dirinya, melainkan beban ini semata-mata tugas pemerintah sebagai pemimimpin negara yang bertanggung jawab penuh atas semua kebutuhan rakyatnya.

Rasulallah bersabda ”bekerja keraslah kalian seolah-olah kalian hidup selamanya, dan beribadahlah dengan tekun seolah-olah kalian akan mati esok har”(H.R Bukhari -Muslim). Dari hadist ini, secara implisit menyuruh kita untuk menjadi mandiri, jangan berfikir kesejahteraan adalah tugas pemerintah semata. Justru di masa-masa yang sulit ini, bangsa kita dituntut unutk menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.

Kunci paling utama adalah bekerja. Apapun pekerjaannya asal baik dan halal, meskipun ada anggapan pekerjaan itu dianggap kecil dan jauh dari penghasilan yang melimpah, namun lakukanlah dengan sepenuh hati, cinta, dan ikhlas.

Cara berfikir seperti ini setidaknya akan mengurangi citra bangsa kita yang dianggap bermental peminta-minta. Pekerjaan yang dianggap ”remeh” itu, namun apabila kita lakukan baik dan sepenuh hati, maka hal ini akan jauh lebih baik daripada pekerjaan yang serba mewah dengan gaji yang melimpah namun masih tetap selalu merasa kurang. Akibatnya korupsi dan penyalah-gunaan wewenang maupun cara-cara tidak halal pun dilakukan dengan tujuan memperkaya diri.

Mereka yang menjadi wakil amanat rakyat tampaknya belum sepenuhnya menyadari, bahwa kekayaan yang mereka miliki suatu saat nanti akan kembali kepada-Nya dan akan dimintai pertanggung-jawaban setelah mereka meninggalkan dunia yang singkat ini.

Sekali lagi, mandiri! Mengoptimalkan, memanfaatkan dan mengolah kekayaan alam yang kita miliki dengan sebaik-baiknya menggunakan daya kreatifitas, kemampuan, dan usaha kerja keras sebagai modal utama yang kita punyai adalah kunci sukses merubah nasib kita untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera dan bahagia.

Karena bersikap pasrah yang berlebihan, apalagi menyalahkan ”kebijakan” (takdir) Tuhan, tentu hal ini tidak akan menyelesaikan masalah dan merubah keadaan. Sebagaimana Allah berfirman ”suatu kaum tidak akan pernah berubah, jika bukan dirinya sendiri yang berusaha untuk melakukannya”(QS. Ar Ra’d: 11). Maka dimana kemandirian diri maupun masyarakat itu ada, di sanalah sebenarnya kemandirian bangsa tercipta.

 
*Kolom Hikmah Harian Nasional Republika, 2 November 2008
Oleh: Moh Fairuz Ad-Dailami

Pemimpin alternatif diperlukan ketika opsi pilihannya memang benar-benar ada calon pemimpin yang mempunyai jiwa negarawan diantara yang lainnya. Karena rasanya percuma ketika pemimpin alternatif itu menjadi sangat perlu namun terbatas pada tataran usia (muda-tua), primordial (jawa-non jawa), maupun status politik (independen-kader partai), jika opsi pemimpin alternatif tersebut tidak dibarengi dengan rasa cinta dari dalam dirinya untuk benar-benar mau berkomitmen dan mendedikasikan apa yang dimilikinya demi kemaslahatan negeri ini.

Pemimpin di sini jangan dipahami sebatas pada sosok seorang presiden saja, tetapi harus lebih luas lagi, yaitu yang tergabung dalam konsep trias politica (ekskutif, legislatif, dan yudikatif). Karena institusi-institusi negara tersebut merupakan manifestasi amanat kepada wakil rakyat yang diberi kepercayaan untuk menjadikan bangsa dan negara ini sejahtera.

Ini kemudian yang membedakan antara seorang negarawan dan politikus, jika lembaga-lembaga negara banyak didominasi para pejabat yang tipenya korup sekaligus politikus, maka negeri ini akan jauh dari kata stabil dan kebutuhan rakyat pun akan terabaikan. Alam pemerintahan tidak akan menjadi check and balance lagi, kebijakan presiden pun terkesan menjadi ragu-ragu karena tidak disetujui oleh DPR, bukan karena kebijakannya yang menyimpang, namun lebih disebabkan kesengajaan untuk menggoyang eksekutif dan tentunya dorongan dari kepentingan partai itu sendiri guna menciptakan sosok pemerintahan yang tidak stabil.

Ketika para pejabat pemerintahan yang datang dari berbagai latar belakang partai apapun kemudian resmi menjadi pejabat wakil rakyat, maka mereka sudah seharusnya mementingkan kemaslahatan rakyat, bukan untuk golongan, kelompok maupun keluarganya. Tidak heran jika lembaga-lembaga pemerintahan di Indonesia sejak dulu tidak mampu bersinergi dengan baik.

Jiwa-jiwa negarawan agaknya lebih diperlukan negeri ini dalam konteks pemipmpin alternatif daripada kriteria-kriteria lainya. Negarawan di sini tentunya tidak hanya dapat dilihat pada saat kampanye yang janjinya berbusa-busa namun praktek kenyataannya tidak sama, namun negarawan sejati di sini harus benar-benar mampu menghayati dan mengamalkan tujuan dari negara itu sendiri yang dalam konteks Indonesia adalah sebagaimana di amanatkan UUD 45. Yaitu diantaranya memajukan kesejahteraan umum (rakyat) dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tentu seorang negarawan harus dibarengi dengan kualitas, intelektual, keberanian, dan siap sepenuhnya mendedikasikan jiwa-raganya dalam satu bentuk paket lengkap untuk kebaikan bangsa serta tanah airnya secara totalitas.

Agama Kemanusiaan

27 Mei 2010

Judul Buku : Menggapai Kesalehan Sosial
Penulis : Dr. Muhammad Iqbal, M.Ag (ed.)
Penerbit : Citapustaka MEDIA PERINITIS
Cetakan : I, September 2008
Tebal : xxiv + 286
Peresensi : Moh. Fairuz Ad-Dailami*

Islam sebagai sebuah entitas agama yang mempunyai pedoman dalam menjalani kehidupan terefleksi di setiap ayat-ayat al-Qur’an.Islam dalam dimensi jangkauan keilmuannya mempunyai ruang kajian yang sangat luas. Dalam tradisi pemikirannya, ia tidak hanya berbicara masalah ketuhanan sebagaimana dua agama samawi sebelumnya (Yahudi dan Kristiani), melainkan masalah mu’amalah (aspek sosial atau interaksi antar sesama manusia) dan akhlak pun menjadi bagian penting sebagai penyempurna dari agama terakhir umat manusia.

Prof. Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa tujuan jangka panjang Islam dalam konteks pedoman kehidupan umat manusia adalah menciptakan bangunan peradaban. Ini yang menegaskan bahwa Islam selain harus dipandang sebagai agama yang beorientasi pada masalah ukhrawi, ia juga dapat diletakkan sebagai tuntunan yang mampu menjadikan kehidupan manusia penuh keteraturan, harmonis, dan penyumbang nilai-nilai moral sebagai landasan kepribadian dalam konteks personal maupun sosial.

Tidak dapat disangkal bahwa setiap bentuk ibadah dalam Islam memiliki dimensi sosial. Umat Islam akan dianggap gagal dalam kehidupannya manakala mereka tidak berhasil mengaktualisasikan pesan-pesan sosial ajaran agamanya, dan hanya terjebak pada formalitas simbolis yang bersifat personal-individualistik. Umat Islam dalam sosok ideal, tidak hanya cukup dengan kesalehan personal. Tetapi unutk mewujudkan kewajaran sosok manusia yang bukan makhluk individual, ia harus belajar selain untuk membentuk kepribadiannya secara baik, lalu kemudian mau melibatkan dirinya dalam proses interaksi antar sesama manusia dalam ranah sosial. Buku ini mengajak pembaca untuk menyelami kedalaman beragama dan mengembangkan pesan-pesan sosial ajaran Islam itu sendiri.

Kesalehan Sosial
Islam dengan Maha Karya Tuhan melalui kitab suci yang terdiri dari 6666 ayat termaktub dalam al-Qur’an membuktikan komprehensifitas isi kandungannya. Tidak hanya yang terlihat dan tertulis dalam wilayah eksoterik (empiris) secara eksplisit saja yang begitu kaya, yang implisit dalam alam esoterik (tersirat)-nya pun seolah tidak habis-habisnya ditimba samudra maknanya dan tidak juga berbatas meskipun dijelajah seluruh ayatnya. Bahkan dalam sekian banyak ayat-ayat itu, sebagian besar menampilkan dimensi kemanusiaan melalui pengalaman kehidupan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pedoman untuk menera jalan baru kesalehan.

Kesalehan sosial merupakan upaya membentuk pribadi muslim untuk bagaimana menjalani kehidupan antar sesama, baik antara muslim maupun non-muslim dengan mengaplikasikan nilai-nilai Qur’ani. Menerapkan nilai-nilai islami mulai dari tataran personal, keluarga, masyarakat, berbangsa-bernegara, hingga skala global yang dapat menjadi teladan umat manusia.

Praktek kehidupan sehari-hari, baik dalam berkeluarga maupun bermasyarakat yang kita anggap sebagai hal yang lumrah, wajar, hanya menyangkut masalah sosial, dan sifatnya biasa. Kenyataannya apabila kita mau menyelami kedalaman Islam sebagai cara kehidupan beragama, dimensi sosiologis yang melibatkan setiap manusia itu dapat dipandang sebagai bentuk ibadah dan bernilai pahala.

Tema-tema seperti kiat membangun keluarga, mendidik anak, etos kerja, al-Qur’an sebagai pelita hidup dan dan banyak lagi yang lainnya mungkin dianggap “barang lama” dan terlalu biasa. Namun buku berisi kumpulan essai-essai di tulis orang-orang Medan yang sebagian besar bergelar doktor ini terlihat berbeda ketika di setiap tulisannya tersaji secara padat. Artinya komprehensifitas keilmuan studi Islam (Islamic Studies) yang menggunakan sudut pandang dari berbagai perspektif dan disiplin ilmu semakin lengkap dikaitkannya dengan ayat-ayat Qur’an. Menegaskakan kembali bahwa praktek kehidupan manusia sehari-hari dalam aspek sosial disadari atau tidak dapat dimasukkan sebagai bentuk ibadah tentunya dengan menyelami kedalaman pemahaman prespektif Islam.

Dengan ini, harus mulai ada penianjauan kembali mengenai religiusitas kita masing-masing. Berusaha mendalami apa yang kita yakini dan imani dalam konteks agama sebagai pedoman untuk menciptakan kebahagiaan antar sesama umat manusia. Menghindari persepsi bahwa cara keberagamaan dalam Islam tidak sepenuhnya terbatas pada hubungan makhluk dengan Tuhannya (hablum minallah) semata, tetapi ada yang penting dan diperhatikan ketika antar sesama manusia dalam Islam juga dituntut untuk bagaimana bersama-sama turut serta menciptakan tatanan kehidupan yang harmonis dalam bingkai dimensi sosial (hablun miannas).

Senada dengan apa yang dikatakan oleh K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahwa agama tak ubahnya sebagai inspirasi, yaitu salah satu fungsinya adalah agama penyumbang tegaknya nilai-nilai kemanusiaan dalam sosio-kultural. Islam selain sebagai agama secara jelas, ia juga mempunyai ruang dimensi kajian yang sangat luas. Demikianlah kurang lebih misi buku ini yang ingin sampaikan kepada pembaca, tidak heran jika tema-tema tulisan di buku ini begitu beragam. Pada dasarnya semuanya bermuara pada ajakan untuk meningkatkan ketakwaan dan menjadikan Islam benar-benar sebagai ajaran yang mampu memberikan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia (rahmatan lil’alamin) secara membumi dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.